"sesungguhnya ku berpura-pura relakan kau pilih cinta yang kau mau"
"sesungguhnya ku tak pernah rela karena ku yang bisa membuat hatimu utuh"
Air mata itu menetes, entah untuk yang keberapa kali.
kukecup dan kukecap lagi,
tapi sayang hanya pahit yang datang.
bukan rindu apalagi tentang masa lalu.
buliran air itu menetes karena kamu,
direngkuh dan dicumbu wanita itu.
pilu, bahkan wajahku sudah kaku.
masih saja kututupi dengan suara,
berharap sandiwara sempurna.
iya suaraku bergema bagai lonceng.
suara itu tawa, suara itu hampa.
aku sedang mencoba berakting,
bertopeng suara tawa hampa,
dan wajah kaku tanpa nama.
sentuhlah aku maka kau akan merasakan,
setiap sel diriku menjerit bahkan merintih.
dengan penuh amarah logikaku menghardik,
"bukankah kau berikrar mengucapkan selamat tinggal?!"
"apa lagi yang kau harapkan?!"
selain akting buruk dan saput kelabu,
aku hanya bisa tersenyum sendu.
"mana bisa aku menghindar, jika sudah terlalu dalam ku terjatuh :')"
-p-