Aku takut, untuk sekedar canda
tawamu yang kau bagikan bersama orang lain akan menumbuhkan satu perasaan baru
untuk mu, mungkin bagi orang lain juga. Mungkin kau tak sadar betapa kuat
pesonamu. kau bukan laksana patung para seniman dengan pahatan paling sempurna,
atau mahakarya seorang pelukis dengan warna-warna indah. Kau lebih dari itu
semua.
Aku takut, akan ada suatu masanya
kau menunjukkan perasaanmu yang sesungguhnya.
Rasa suka, rasa sayang. Dengan gamblang kau banggakan pada dunia. Tapi
orang yang beruntung itu sayang nya bukan aku. Akankah pada masa itu aku
menangis dengan sayatan-sayatan perih di hati? Atau aku malah akan
mengikhlaskan dan membiarkan semua misteri akhirnya terungkap. Lalu turut
berbahagia untukmu dan untuk seseorang lainnya? . harus bagaimana kah aku?
Aku takut jika aku tak cukup
pantas untuk seseorang seperti mu, apa daya ku, seorang yang berada dalam jalur
abu-abu. Bukan hitam tidak juga putih. Mencoba bersanding dengan kamu. Malaikat
senjaku. Membayangkan akan berada dalam genggaman mu, setiap pagi dalam sisa
hidupku. Menjadi makmum darimu di dalam setiap ibadah yang kita jalani bersama.
Adalah mimpi terindah yang mengiringiku di setiap malam lelapku.
Ketakutan-ketakutanku pun hanya
menjadi gema yang terpantul dalam dinding-dinding kosong pikiranku, kau tak
pernah tahu, tak ada keberanian dalam diriku. Tak ada kelayakan yang dapat
membuatku berucap dalam kejujuran teantang perasaanku. Ketakutanku hanya
menjadi elegi dalam penantian panjang yang tak berujung. Tuhan……bantu aku :’)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar