Jumat, 30 Agustus 2013

Percakapan para peri

Seseorang sedang berada dalam jalur yang hina,
Sedang terlumuri rasa aman akan kesuksesan.
Ketakutan akan jatuh dan gagal selalu terbayang.

"Hey kamu! taukah bahwa kamu tak tau berterima kasih?"
"Taukah kamu bahwa kamu sedang terjangkit penyakit hati?"
"Takabur kamu! Bersujud dan berterima kasihlah pada-Nya"

Dengan tangisan sendu seseorang itu hanya bisa meraba dalam gelap.
Matanya terbutakan oleh rasa takutnya sendiri.
Menggigil sendirian, hanya saja dia tak tahu.
Dia berada dalam lingkaran orang2 tersayang.

Sebegitunya kah seseorang itu menutup hati dan pikiran?
"lihatlah sekelilingmu! Sudikah kau mengecewakan mereka?"
"sudikah kau menghianati janjimu untuk membahagiakan ayah bundamu."

Haruskah ada tamparan keras untuk membuat seseorang itu terjaga?

"maafkan aku, aku hanya sedang dipeluk ketakutan. Semangatku menghilang"
"Dan aku sedang berjalan tanpa tujuan. Sudikah kiranya kamu menuntunku kembali? Membukakan rimba dan semak belukar yg menutupi akal sehatku"
Seseorang itu berkata sambil tersedu, menangis.
Meringkuk bagai tiada nyala dalam dirinya.

"lupakah kamu, kamu memiliki peri-peri cantik kesayangan"
"lupakah kamu, bahkan mereka akan rela mencaci bahkan menyeretmu kembali ke alam sadar"
"teruslah hidup, demi kami. Orang-orang yang menyayangimu, jangan pernah mati karena keadaan"

Seseorang itu harusnya tak kan pernah lupa, terlalu banyak orang kesayangan yang harus dia banggakan. Harusnya dia tahu bahwa dia terlahir sebagai seorang pejuang.
Bukan seorang budak keadaan.

Kamis, 29 Agustus 2013

Sekian detik saja

Kenapa harus seperti ini?  hanya bisa berkeluh kesah.
Hanya bisa berkhayal dan bermimpi.
Menjadi seorang putri tidur yang terlanjur terpikat dunia khayal.
Hei!! bisakah sejenak mengambil nafas,
Terengah engah sekian detik pun tak apa. Bisakah?
Aku terlampau lelah mencoba mengimbangi dunia.
Terlalu letih untuk sekedar mencoba.
memandang lewat mimpi pun tetap merasa semua hal ini akan binasa, bahkan mungkin sebelum terjamah.

Duh!! Aku terlalu lemah dalam berlari, bahkan selalu tersungkur saat meloncati mimpi.
Dari satu mimpi ke mimpi lainnya.
jaring laba-labaku mengitari,
mencoba bertahan dan berpegang erat dalam harapan ayah bunda.
Tuhaaaan, ijinkan aku terengah, meskipun itu sekian detik saja.