Minggu, 05 Februari 2017

Sakit

sakit,
dingin,
menggigil.

untuk seseorang yg selalu berada dalam kehangatan mama papa dan mbauti. merasa sakit pukul 02.00 dini hari cukup membuat sedih dan pikiran berkelana kemana-mana.

tentang betapa bersyukurnya dulu memiliki orang2 yang selalu sigap saat aku sakit. memiliki orang2 yang cerewet agar aku tidak sakit.

merasa menggigil di kota lain,
merasa tak berdaya di kota lain.

memanggil nama orang2 tersayang bergantian,
aah begini rasanya sakit sendirian.
nelangsa. .
bersusah payah berdiri mencari selimut, menguatkan diri mengambil jaket. toh akhirnya tak sanggup juga.

bersyukur selalu memiliki teman yang baik dimanapun aku berada,
telpon pukul 4 dini hari dan bantuan pun datang.
terima kasih untuk tmbahan selimut, air panas dan minyak kayu putih. terima kasih untuk kekhawatiran terhadap seseorang yg baru kamu kenal dekat selama 4 bulan.

ternyata aku selemah ini,
ternyata aku serapuh ini,
mengurus diri sendiri saat sakit bukan hal yang mudah, bukan hal yg bisa disombongkan kmu akan bisa.

Terima kasih ya Allah untuk pertolongan yang selalu ada.

Minggu, 29 Januari 2017

Cerita Pengantar Tidur

Sudah lama sekali,
Hampir dua tahun tidak menulis di sini.
Sepanjang 2015 dan 2016 terlalu banyak hal yang menyita emosi dan konsentrasi.
Terlalu banyak hal yang mematikan imajinasi.
meski begitu dua tahun ini aku tetap menulis di antara kertas usang dan coretan asal-asalan.

harus di mulai darimana?
dua tahun bukan waktu yang singkat.
terlalu banyak perubahan dan kejadian.
diriku saja berubah bertambah berat :'D.

Yang pasti dapat kukatakan
"Banyak pembelajaran dan pencapaian, tak lupa juga ada hal-hal yang harus direlakan. Semua ada masanya dan kini aku mengerti apa arti melepas untuk mendewasakan, pergi untuk mencari dan mengikhlaskan demi masa depan"

dapat kupastikan tidak ada yang kusesali selama dua tahun ini.
aku bersyukur melewati semuanya dengan sungguh2. entah itu tangis atau tawa. entah itu duka atau bahagia. apapun itu tetap momen yang harus dijaga. agar aku tidak lupa,

"bahwa aku melewati masa itu dengan kenangan, bersama kamu, bersama kalian dan itu semua berharga"

Aku terlalu singkat merangkumnya dalam beberapa kata saja, terlalu biasa menjabarkan kejadian2 istimewa.
karena cerita pengantar tidur ini hanyalah pembuka, untuk perjalananku selanjutnya.

Selamat tidur :).

Jakarta, 29 Januari 2017.
00.43

                       - p -

Kamis, 14 Mei 2015

Selamat jalan

Lama tidak menulis.
Lama terjaga di malam hari tanpa menulis.
Lama terbebani rutinitas hingga lupa menulis.

Apa kabar?
Maafkan aku karena kali ini aku menorehkan mu dengan kesedihan.

Seseorang baru saja merasakan kehilangan.
Kepergian tanpa adanya perpisahan.
Tanpa permisi dan basa basi lalu semua hilang.

Sekarang yang ada hanya kenangan.
sekarang yang ada hanya foto-doto usang.
Sekarang yang ada hanya lima perempuan yang saling menguatkan.
Sekarang yang ada hanya ukiran batu nisan.

Seseorang baru saja berusaha tegar,
Berpegang pada kekuatan iman,
Mencoba menerima kenyataan.

Seseorang berusaha ikhlas melepaskan.

Selamat jalan.

Jumat, 17 Oktober 2014

Maaf?

Pendengaranku tidak salah,
Sekali lagi aku mendengar kata yang sama.
"Maaf".
Lalu apa?
Bahkan kertas yang sudah robek pun tak kan bisa kembali utuh meski dicoba untuk direkatkan.
Apalagi hati yang telah ditorehkan luka, berkali-kali?

Pendengaranku tidak salah,
Sekali lagi aku mendengar kata yang sama.
"Maaf"
Apa semua selesai?
Nyatanya jawabannya tidak,
Karena seperti dua orang sahabat. Maaf selalu ditemani kawan yang setia.
Yaitu kesalahan yang sama.

Pendengaranku tidak salah,
Sekali lagi aku mendengar kata yang sama.
"Maaf"
Benarkah?
Buat apa diucapkan jika tanpa rasa.
Karena maaf menyiratkan penyesalan walau terkadang tanpa kata.
Bukan pembenaran apalagi kesempatan untuk menyakiti. Lagi.

Maaf,
Aku mencoba tuli, lalu berjalan pergi.

                                    -P-

Senin, 06 Oktober 2014

Kisah klasik (2)

Pedih itu,
Saat kamu merasa sakit, melihat dia yang kamu pedulikan  disakiti.
Perih itu,
Saat kamu merasa sedih, melihat air mata dari dia yang sangat kamu sayang.
Hancur itu,
Saat kamu merasa rapuh, melihat dia melemah dan kehilangan kekuatan.

Kisah klasik kesayanganku,
Meski pun kamu tak tahu jika aku merasakan pahit yang sama,
pahit yang menelusuri semua bagian dari rasa.
Yang kadang membuat aku kehilangan akal dengan banyak tanya tersisa.

Bisakah aku memohon padamu,
Berhentilah menyakiti diri mu sendiri, karena tanpa kamu sadari aku yang selalu memperhatikan mu akan mengalami sakit yang sama.
Berhentilah menitikkan air mata, karena yang tidak kamu tahu aku yang selalu mendengarkan keluh kesahmu, diam-diam akan meneteskan air mata duka.
Berhentilah membuat dirimu lemah, karena disaat bersamaan kekuataan ku meluruh tanpa sempat aku kendalikan.

Aku tahu kamu merasa dia adalah kebahagiaanmu,
Tapi aku tak sanggup melihat jika dia lebih sering menyakitimu.

Inspired by : ------a A----

NB : Manusia kadang  memang lucu, dari berbagai cerita yang sering aku dengar. Dari berbagai kejadian yang aku perhatikan. Mereka lebih sibuk mencari tanpa membiarkan hatinya tuk beradaptasi . Tahukah kamu bahwa orang yang paling menyayangimu terkadang tak selalu berada jauh? .

Lima

Lima yang ke-tiga,
Malam ini aku menulis ditemanin peluh,
Dibungkus hawa panas yang akhir-akhir ini semakin mengikat.
Ingin rasanya menceritakan sesuatu tapi juga bingung harus memulai darimana.
Apa harus kumulai dari hari itu? Hari dimana aku melihatmu kehilangan kata dan mendadak menjadi pendiam, melihat mu merutuki dirimu sendiri karena tak punya keberanian? .
Hari yang bahkan sampai hari ini kuhapal detailnya, tanpa sedikitpun yang kulupakan?

Lima di bulan ke-tujuh,
Bulan itu bulan ku, bulan dimana aku menjadi 'putri' dalam arti sesungguhnya, aku merapal mantera kesukaan ku. Tentang panjang umur dan bahagia di jalan-Nya. Meski hari itu kujalani dengan kesakitan karena 'tamu' bulanan, aku tetap tersenyum senang krena ada kamu nyata tanpa jarak yang sempat membentang lebar.

Ada sebuah kejutan darimu, Kejutan itu adalah peri-peri kesayanganku, para perempuan kuat yang akan selalu menjadi kebanggaanku. Ada kamu dan mereka, maka hari itu menjadi sangat bermakna. Tanpa aku tahu bahwa ada hal lain yang jadi penutupnya

Aneh, kamu terlalu pendiam. Terlalu terlihat berpikir. Berbicara seadanya dan terkadang fokusmu mu pun entah ada dimana. Menyebalkan, aku pikir hari ini bakal menyenangkan, ditemani sahabat dan orang yang aku sayang. Tapi yang kudapat malah kamu yang seperti melamunkan banyak hal. Apa sih yang kamu pikirkan? Ada janji rapat yang kamu lupakan? Ada kegiatan yang hrus kamu lakukan? Apa? .

Hari berlalu dengan cepat, dan malam pun mulai merayap tanpa bisa melambat. Tepat di depan rumah opa ku , berhiaskan mawar putih yang kau pegang, serta wajahmu yang tegang akhirnya aku tahu apa yang menyebabkan kamu seharian menjadi begitu membingungkan. Haha seharusnya kamu melihat wajahmu saat itu, kaku. Tapi aku rindu saat itu, saat kamu yang awalnya berbicara rancu, kamu yang memberikan seluruh keberanianmu, menekan rasa malumu.  Kamu yang menyatakan perasaan mu padaku :).

Lima yang ke-tiga,
Aku tahu aku bukan yang pertama, bukan juga yang paling sempurna. Aku tahu aku menyebalkan, terkadang juga bisa menjadi sangat egois dan manja.
Aku berterima kasih padamu sayang, karena aku tahu kamu tahu aku yang seperti ini, aku tahu kamu sayang aku yang seperti ini, aku tahu kamu terima aku yang seperti ini. Terimakasih.

Sampai jumpa di lima yang ke-empat dan seterusnya :*

                                                       -P-

Minggu, 05 Oktober 2014

Tentang warna

Saat ini malam kembali menjadi pendengar setia,
Dan aku ingin membacakan sebuah kisah.
Kisah ini menceritakan tentang warna, aku harap kalian juga mendengarnya.

Kuperkenalkan kepada kalian :
Hitam, putih, abu-abu, biru, dan jingga.

Hitam mengawali dengan perih dan langkahnya ditemani air mata,
Maka hitam pun berlari pergi,
Dari tatanan yang mengikat, dan bualan gila tentang kiamat.
Kiamat hidupnya sendiri.

Putih, dia berpikir tentang sempurna yang terluka,
Bahwa semua yang utuh bukan berarti tanpa cela,
Maka dia pun memilih bersembunyi,
Berlindung dari egonya sendiri.

Abu-abu berada dalam batas,
Yang terkadang terasa mengikat.
Inginnya berteriak lantang, ataupun
Berdiam meski dalam keramaian.
Keputusan pun diperlukan, maka di hapusnya batas,
Tentang kebiasaannya sendiri.

Biru, jatuh dalam kedamaian.
Mesti tau selalu ada harga yang hrus dibayar.
Sunyi sepi bukan berarti sendiri, angin tak kan pernah diam.
Karena damai bukan hanya tentang ketenangan,
Riuh pun diperlukan.
Tanpa disadari biru mentertawakan dirinya sendiri.

Jingga merasa jika tawa adalah segalanya,
Maka tak perlu ada duka.
Tapi sayang semua butuh keseimbagan,
Jingga ingin mengerti tentang air mata,
tentang pilu yang membuat seseorang menjadi sendu, semua utuh jika bersatu.
Maka pada akhirnya jingga menangis,
Untuk sesuatu yang tak pernah dia miliki sendiri.

Karena pada akhirnya,
Apapun yang kita pikir ada, adalah sesuatu yang butuh ketiadaan.
Apapun yang kita pikir sempurna, adalah sesuatu yang butuh cela.
Apapun yang kita pikir miliki, adalah sesuatu yang butuh kehilangan.



                                                   -P-