Saat ini malam kembali menjadi pendengar setia,
Dan aku ingin membacakan sebuah kisah.
Kisah ini menceritakan tentang warna, aku harap kalian juga mendengarnya.
Kuperkenalkan kepada kalian :
Hitam, putih, abu-abu, biru, dan jingga.
Hitam mengawali dengan perih dan langkahnya ditemani air mata,
Maka hitam pun berlari pergi,
Dari tatanan yang mengikat, dan bualan gila tentang kiamat.
Kiamat hidupnya sendiri.
Putih, dia berpikir tentang sempurna yang terluka,
Bahwa semua yang utuh bukan berarti tanpa cela,
Maka dia pun memilih bersembunyi,
Berlindung dari egonya sendiri.
Abu-abu berada dalam batas,
Yang terkadang terasa mengikat.
Inginnya berteriak lantang, ataupun
Berdiam meski dalam keramaian.
Keputusan pun diperlukan, maka di hapusnya batas,
Tentang kebiasaannya sendiri.
Biru, jatuh dalam kedamaian.
Mesti tau selalu ada harga yang hrus dibayar.
Sunyi sepi bukan berarti sendiri, angin tak kan pernah diam.
Karena damai bukan hanya tentang ketenangan,
Riuh pun diperlukan.
Tanpa disadari biru mentertawakan dirinya sendiri.
Jingga merasa jika tawa adalah segalanya,
Maka tak perlu ada duka.
Tapi sayang semua butuh keseimbagan,
Jingga ingin mengerti tentang air mata,
tentang pilu yang membuat seseorang menjadi sendu, semua utuh jika bersatu.
Maka pada akhirnya jingga menangis,
Untuk sesuatu yang tak pernah dia miliki sendiri.
Karena pada akhirnya,
Apapun yang kita pikir ada, adalah sesuatu yang butuh ketiadaan.
Apapun yang kita pikir sempurna, adalah sesuatu yang butuh cela.
Apapun yang kita pikir miliki, adalah sesuatu yang butuh kehilangan.
-P-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar