Senin, 06 Oktober 2014

Lima

Lima yang ke-tiga,
Malam ini aku menulis ditemanin peluh,
Dibungkus hawa panas yang akhir-akhir ini semakin mengikat.
Ingin rasanya menceritakan sesuatu tapi juga bingung harus memulai darimana.
Apa harus kumulai dari hari itu? Hari dimana aku melihatmu kehilangan kata dan mendadak menjadi pendiam, melihat mu merutuki dirimu sendiri karena tak punya keberanian? .
Hari yang bahkan sampai hari ini kuhapal detailnya, tanpa sedikitpun yang kulupakan?

Lima di bulan ke-tujuh,
Bulan itu bulan ku, bulan dimana aku menjadi 'putri' dalam arti sesungguhnya, aku merapal mantera kesukaan ku. Tentang panjang umur dan bahagia di jalan-Nya. Meski hari itu kujalani dengan kesakitan karena 'tamu' bulanan, aku tetap tersenyum senang krena ada kamu nyata tanpa jarak yang sempat membentang lebar.

Ada sebuah kejutan darimu, Kejutan itu adalah peri-peri kesayanganku, para perempuan kuat yang akan selalu menjadi kebanggaanku. Ada kamu dan mereka, maka hari itu menjadi sangat bermakna. Tanpa aku tahu bahwa ada hal lain yang jadi penutupnya

Aneh, kamu terlalu pendiam. Terlalu terlihat berpikir. Berbicara seadanya dan terkadang fokusmu mu pun entah ada dimana. Menyebalkan, aku pikir hari ini bakal menyenangkan, ditemani sahabat dan orang yang aku sayang. Tapi yang kudapat malah kamu yang seperti melamunkan banyak hal. Apa sih yang kamu pikirkan? Ada janji rapat yang kamu lupakan? Ada kegiatan yang hrus kamu lakukan? Apa? .

Hari berlalu dengan cepat, dan malam pun mulai merayap tanpa bisa melambat. Tepat di depan rumah opa ku , berhiaskan mawar putih yang kau pegang, serta wajahmu yang tegang akhirnya aku tahu apa yang menyebabkan kamu seharian menjadi begitu membingungkan. Haha seharusnya kamu melihat wajahmu saat itu, kaku. Tapi aku rindu saat itu, saat kamu yang awalnya berbicara rancu, kamu yang memberikan seluruh keberanianmu, menekan rasa malumu.  Kamu yang menyatakan perasaan mu padaku :).

Lima yang ke-tiga,
Aku tahu aku bukan yang pertama, bukan juga yang paling sempurna. Aku tahu aku menyebalkan, terkadang juga bisa menjadi sangat egois dan manja.
Aku berterima kasih padamu sayang, karena aku tahu kamu tahu aku yang seperti ini, aku tahu kamu sayang aku yang seperti ini, aku tahu kamu terima aku yang seperti ini. Terimakasih.

Sampai jumpa di lima yang ke-empat dan seterusnya :*

                                                       -P-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar