Jumat, 17 Oktober 2014

Maaf?

Pendengaranku tidak salah,
Sekali lagi aku mendengar kata yang sama.
"Maaf".
Lalu apa?
Bahkan kertas yang sudah robek pun tak kan bisa kembali utuh meski dicoba untuk direkatkan.
Apalagi hati yang telah ditorehkan luka, berkali-kali?

Pendengaranku tidak salah,
Sekali lagi aku mendengar kata yang sama.
"Maaf"
Apa semua selesai?
Nyatanya jawabannya tidak,
Karena seperti dua orang sahabat. Maaf selalu ditemani kawan yang setia.
Yaitu kesalahan yang sama.

Pendengaranku tidak salah,
Sekali lagi aku mendengar kata yang sama.
"Maaf"
Benarkah?
Buat apa diucapkan jika tanpa rasa.
Karena maaf menyiratkan penyesalan walau terkadang tanpa kata.
Bukan pembenaran apalagi kesempatan untuk menyakiti. Lagi.

Maaf,
Aku mencoba tuli, lalu berjalan pergi.

                                    -P-

Senin, 06 Oktober 2014

Kisah klasik (2)

Pedih itu,
Saat kamu merasa sakit, melihat dia yang kamu pedulikan  disakiti.
Perih itu,
Saat kamu merasa sedih, melihat air mata dari dia yang sangat kamu sayang.
Hancur itu,
Saat kamu merasa rapuh, melihat dia melemah dan kehilangan kekuatan.

Kisah klasik kesayanganku,
Meski pun kamu tak tahu jika aku merasakan pahit yang sama,
pahit yang menelusuri semua bagian dari rasa.
Yang kadang membuat aku kehilangan akal dengan banyak tanya tersisa.

Bisakah aku memohon padamu,
Berhentilah menyakiti diri mu sendiri, karena tanpa kamu sadari aku yang selalu memperhatikan mu akan mengalami sakit yang sama.
Berhentilah menitikkan air mata, karena yang tidak kamu tahu aku yang selalu mendengarkan keluh kesahmu, diam-diam akan meneteskan air mata duka.
Berhentilah membuat dirimu lemah, karena disaat bersamaan kekuataan ku meluruh tanpa sempat aku kendalikan.

Aku tahu kamu merasa dia adalah kebahagiaanmu,
Tapi aku tak sanggup melihat jika dia lebih sering menyakitimu.

Inspired by : ------a A----

NB : Manusia kadang  memang lucu, dari berbagai cerita yang sering aku dengar. Dari berbagai kejadian yang aku perhatikan. Mereka lebih sibuk mencari tanpa membiarkan hatinya tuk beradaptasi . Tahukah kamu bahwa orang yang paling menyayangimu terkadang tak selalu berada jauh? .

Lima

Lima yang ke-tiga,
Malam ini aku menulis ditemanin peluh,
Dibungkus hawa panas yang akhir-akhir ini semakin mengikat.
Ingin rasanya menceritakan sesuatu tapi juga bingung harus memulai darimana.
Apa harus kumulai dari hari itu? Hari dimana aku melihatmu kehilangan kata dan mendadak menjadi pendiam, melihat mu merutuki dirimu sendiri karena tak punya keberanian? .
Hari yang bahkan sampai hari ini kuhapal detailnya, tanpa sedikitpun yang kulupakan?

Lima di bulan ke-tujuh,
Bulan itu bulan ku, bulan dimana aku menjadi 'putri' dalam arti sesungguhnya, aku merapal mantera kesukaan ku. Tentang panjang umur dan bahagia di jalan-Nya. Meski hari itu kujalani dengan kesakitan karena 'tamu' bulanan, aku tetap tersenyum senang krena ada kamu nyata tanpa jarak yang sempat membentang lebar.

Ada sebuah kejutan darimu, Kejutan itu adalah peri-peri kesayanganku, para perempuan kuat yang akan selalu menjadi kebanggaanku. Ada kamu dan mereka, maka hari itu menjadi sangat bermakna. Tanpa aku tahu bahwa ada hal lain yang jadi penutupnya

Aneh, kamu terlalu pendiam. Terlalu terlihat berpikir. Berbicara seadanya dan terkadang fokusmu mu pun entah ada dimana. Menyebalkan, aku pikir hari ini bakal menyenangkan, ditemani sahabat dan orang yang aku sayang. Tapi yang kudapat malah kamu yang seperti melamunkan banyak hal. Apa sih yang kamu pikirkan? Ada janji rapat yang kamu lupakan? Ada kegiatan yang hrus kamu lakukan? Apa? .

Hari berlalu dengan cepat, dan malam pun mulai merayap tanpa bisa melambat. Tepat di depan rumah opa ku , berhiaskan mawar putih yang kau pegang, serta wajahmu yang tegang akhirnya aku tahu apa yang menyebabkan kamu seharian menjadi begitu membingungkan. Haha seharusnya kamu melihat wajahmu saat itu, kaku. Tapi aku rindu saat itu, saat kamu yang awalnya berbicara rancu, kamu yang memberikan seluruh keberanianmu, menekan rasa malumu.  Kamu yang menyatakan perasaan mu padaku :).

Lima yang ke-tiga,
Aku tahu aku bukan yang pertama, bukan juga yang paling sempurna. Aku tahu aku menyebalkan, terkadang juga bisa menjadi sangat egois dan manja.
Aku berterima kasih padamu sayang, karena aku tahu kamu tahu aku yang seperti ini, aku tahu kamu sayang aku yang seperti ini, aku tahu kamu terima aku yang seperti ini. Terimakasih.

Sampai jumpa di lima yang ke-empat dan seterusnya :*

                                                       -P-

Minggu, 05 Oktober 2014

Tentang warna

Saat ini malam kembali menjadi pendengar setia,
Dan aku ingin membacakan sebuah kisah.
Kisah ini menceritakan tentang warna, aku harap kalian juga mendengarnya.

Kuperkenalkan kepada kalian :
Hitam, putih, abu-abu, biru, dan jingga.

Hitam mengawali dengan perih dan langkahnya ditemani air mata,
Maka hitam pun berlari pergi,
Dari tatanan yang mengikat, dan bualan gila tentang kiamat.
Kiamat hidupnya sendiri.

Putih, dia berpikir tentang sempurna yang terluka,
Bahwa semua yang utuh bukan berarti tanpa cela,
Maka dia pun memilih bersembunyi,
Berlindung dari egonya sendiri.

Abu-abu berada dalam batas,
Yang terkadang terasa mengikat.
Inginnya berteriak lantang, ataupun
Berdiam meski dalam keramaian.
Keputusan pun diperlukan, maka di hapusnya batas,
Tentang kebiasaannya sendiri.

Biru, jatuh dalam kedamaian.
Mesti tau selalu ada harga yang hrus dibayar.
Sunyi sepi bukan berarti sendiri, angin tak kan pernah diam.
Karena damai bukan hanya tentang ketenangan,
Riuh pun diperlukan.
Tanpa disadari biru mentertawakan dirinya sendiri.

Jingga merasa jika tawa adalah segalanya,
Maka tak perlu ada duka.
Tapi sayang semua butuh keseimbagan,
Jingga ingin mengerti tentang air mata,
tentang pilu yang membuat seseorang menjadi sendu, semua utuh jika bersatu.
Maka pada akhirnya jingga menangis,
Untuk sesuatu yang tak pernah dia miliki sendiri.

Karena pada akhirnya,
Apapun yang kita pikir ada, adalah sesuatu yang butuh ketiadaan.
Apapun yang kita pikir sempurna, adalah sesuatu yang butuh cela.
Apapun yang kita pikir miliki, adalah sesuatu yang butuh kehilangan.



                                                   -P-