Berteman dengan lantunan lagu,
saat pekatnya rindu sudah mulai memuakkan.
Mencoba bermain dengan khayalan.
Bertanya dalam sunyi peraduan,
bagaimana sesungguhnya isi hati
seorang seperti kamu
terhadap perempuan ingusan apa
adanya
yang berani jatuh cinta terhadap sosok yang nyaris
sempurna.
Menarik nafas sedalam-dalamnya.
Menghirup angin malam dalam diam.
Sungguh bahkan saat ini pun dalam
kerlip bintang.
Aku masih bisa membayangkan
wajahmu.
Wajahmu yang bersemu merah
terselimuti canda.
Bukan ku seumpama benteng kokoh
yang kolokan.
Hanya saja ku masih memegang
teguh idealisme seorang wanita.
Yang hanya bisa menunggu dalam
teduhnya penantian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar